WellyArdhana

Haruskah ada lagi penjajah

Tulisan ini adalah keprihatinan saya terhadap perkembangan masyarakat kita belakangan ini yang saya ikuti di media massa. Sebuah masyarakat yang dikenal keramahannya, kekeluargaannya, dan kegotongroyongannya — at least berdasarkan buku Pendidikan Moral Pancasila Sekolah Dasar dulu.

Agaknya tuntutan untuk mempertahankan hidup ditengah perubahan yang terjadi mulai mengikis pelan (mungkin di beberapa daerah sudah habis) nilai-nilai luhur nenek moyang ini. Betapa tidak, saat terjadi kenaikan harga kedelai lalu misalnya, pengrajin tempe ramai-ramai memboikot bahkan di beberapa tempat melakukan sweeping terhadap rekan-rekannya yang masih bekerja.

Hal serupa juga tidak jarang dijumpai diantara unjuk rasa yang berkaitan dengan masalah kebijakan transportasi. Pun juga dilakukan saat terjadi ketidaksepahaman disebuah lingkungan. Bahkan lucunya untuk membela hal-hal yang agak aneh (menurut saya) seperti contoh unjuk rasanya sekelompok siswa untuk meminta agar guru-gurunya yang ditangkap pihak berwajib karena tersangkut masalah kecurangan ujian nasional dilepaskan.

Melihat hal tersebut saya menangkap adanya kesan yang berlaku sekarang ini bahwa ‘rame-rame’ akan memudahkan perjuangan, tidak peduli apa yang diperjuangkan. Benarkah ?

Menurut saya, jawabannya adalah benar, sesuai dengan azas gotong royong. Pepatah juga mengatakan berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Dan ini juga yang membuat bangsa kita merdeka dari penjajahan.Gotong royong yang berujung pada persatuan.

Nah, tapi mengapa apa yang saya tulis diatas terjadi saat ini ? Mungkin ini karena persatuan yang terjalin saat ini hanya terjadi pada lingkup yang kecil, misal dalam daerah atau kelompok tertentu. Maka wajarlah jika rasa memiliki hanya dipunyai oleh sebagian daerah atau kelompok saja.

Perlu bukti ? Lihat saja saat digelarnya event perebutan piala Thomas dan Uber lalu, seluruh bangsa seakan melupakan beratnya beban hidup masing-masing demi membela pejuang-pejuang kita bertanding.

Ini tandanya bahwa sebenarnya kita masih bisa, kita masih mmpu karena kita masih punya sesuatu yang mempererat persatuan dalam skala yang lebih besar dari yang sekarang ada. PR-nya sekarang adalah bagaimana menemukan dan menumbuhkan sesuatu itu? Apakah harus ada lagi penjajah?

 

Leave a Reply