Berkarir di zona nyaman
Pada suatu pagi saya tertarik dengan tweet seorang kawan “Menanti kereta tiba, ke kantor bareng suami” yang diposting pada pukul 05:15 pagi. Pada kesempatan yang lain saya juga tertarik dengan tweet seorang pengusaha busana muslim “Main bersama anak-anak” dipostingkan pada pukul 07:30 lalu 2 jam setelahnya “Memulai merangkai kreatifitas dengan bertemu kolega di Mall”.
Kontradiksi penggalan aktivitas kedua orang diatas yang menarik buat disimak. Sama-sama bekerja di negara yang sama, bernafas dengan udara yang sama-sama gratisnya (Thanks to Allah), sama-sama tinggal di Indonesia tercinta, sama-sama bekerja di Jakarta, namun nyata sekali perbedaan menjalani kegiatan hari ke harinya. Ada yang harus berpacu dengan waktu, sehingga harus berangkat pagi buta dengan meninggalkan anaknya di rumah, tapi ada juga yang lebih leluasa terhadap waktu karena pekerjaannya bisa dilakukan selepas mengawali hari bersama anak-anaknya dirumah. Kita mau pilih yang mana ?
STOP!!! Apa iya harus memilih ? Bagaimana jika tidak memilih, memutuskan untuk tidak bekerja apapun ? Silahkan saja, tidak akan ada yang menghalangi. Tapi tolong pikirkan beberapa hal ini sebelum melakukannya :
- Bagaimana mempertahankan hidup ini sementara ada kebutuhan yang harus dipenuhi?
- Bagimana mengisi waktu?
- Bagaimana melaksanakan salah satu tujuan keberadaan kita di bumi yaitu untuk menjadi pemimpin?
- Dengan cara apa akan membahagiakan keluarga ?
- Hal-hal baik apa saja yang bisa dilakukan jika sukses dalam bekerja ?
Bekerja jelas menjadi suatu kewajiban dengan segala alasannya. Semua orang pasti dapat mengungkapkannya dengan mudah. Maka tidak heran jika banyak orang-orang seperti cerita kawan saya diawal. Dan tidak sedikit juga mereka menggunakan cara lain dalam bekerja seperti seorang pengusaha sukses diatas. Apa yang membuat mereka berbeda ?
Menurut René Suhardono dalam bukunya Your Job Is Not Your Career, memahami perbedaan pekerjaan dan karir adalah kuncinya. Namun sering sekali keduanya dianggap satu hal yang tidak terpisahkan. Dan ini benar-benar tidak benar (jangan bingung dengan kata-kata ini ya).
Terdapat perbedaan yang mendasar tentang keduanya yang akan sangat mempengaruhi cara pandang dalam bekerja bahkan dalam hidup. Berikut petikan dari buku tersebut :
Pekerjaan adalah alat bagi perusahaan untuk mencapai tujuannya. Sarana bagi individu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan berkarya. Jalan untuk berkembang secara pribadi dan professional. Kendaraan untuk mencapai personal achievement dan berkontribusi terhadap lingkungan.
Sementara karir sepenuhnya tentang diri sendiri. Mengenali diri sendiri dan mengetahui hal-hal yang sangat diminati. Bagaimana menjalankan hidup yang bermakna. Bagaimana ingin diingat saat tiada nanti. Bagaimana untuk mempunyai pandangan positif di sepanjang hidup (motivasi). Semangat untuk terus melakukan pebedaan dalam hidup sekarang. Dan bagaimana mencapai kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup.
Jelas sekali bahwa buku itu mengajak orang untuk memandang suatu yang lebih besar dan luas, tidak hanya tentang rutinitas bangun pagi-pagi (bahkan kadang ayampun belum berkokok), berangkat ke kantor, menyelesaikan tugas hari itu, pulang di sore atau malam hari. Istirahat malam untuk kemudian memulainya kembali dari awal.
Okay then, bagaimana memahami karir itu ?
Sebelumnya,sebagai orang kantoran yang baru 11 tahun ini, saya memahami karir seseorang dengan dangkal. Karir tidak lebih dari perjalanan hingga mencapai posisi tertentu dalam perusahaan tempatnya bekerja. Seseorang dengan karir yang bagus adalah dia yang mampu mencapai suatu posisi lebih cepat dari pada yang lainnya. Tidak salah, karena memang ukuran yang saya pakai terhadap karir seseorang adalah atribut yang disandangnya.
Tapi apakah itu benar ? Ternyata tidak! Karena itu mengejar atribut hanya akan membuat siapa yang mempercayainya tenggelam dalam balapan yang tak berujung. Satu tercapai beralih ke yang lain. Begitu seterusnya. Tidak akan pernah selesai.
Maka petikan dari buku diatas benar adanya bahwa berbicara tentang karir adalah lebih membicarakan hidup kita sendiri bukan perusahaan, mencari keunikan, menentukan minat, menggapai tujuan hidup, berusaha selalu berpikir positif agar hidup ini lebih bahagia karena selalu meihat sisi baik dari segala hal dan dapat melakukan aksi yang membawa perubahan dengan tepat dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Kembali ke cerita seorang kawan diawal, perbedaan dalam menjalani karir seseorang bukan berarti mereka belum menemukan arti karir yang sebenarnya. Malah boleh jadi merekalah yang sudah menemukannya, mengalahkan ketakutan dan selalu berusaha untuk keluar dari zona nyaman yang seringkali melenakan para pekerja kantoran seperti saya.
Keluar dari zona itu sudah sering diutarakan. Artikel-artikel motivator ulung, buku-buku seri entrepreneur, dan lain-lain. Tapi tidak semua orang yang mendengar mampu untuk melakukannya karena dibutuhkan keberanian yang tidak sedikit dan pemahaman terhadap perubahan.
Jadi beruntunglah mereka yang seperti tokoh Sniff dan Scurry yang mampu mengamati perubahan dari waktu ke waktu untuk bersiap menghadapi yang terburuk dan melakukan antisipasi. Seperti yang diceritakan pada buku Who Move My Cheese karya Spencer Johnson, M.D.
Lalu apakah keluar dari zona nyaman ini berarti harus meninggalkan keja kantoran untuk kemudian merubah diri menjadi seorang entrepreneur ?
Hehe saya setuju dengan pendapat Om Bob Sadino yang dituliskan dalam buku Mereka Bilang Saya Gila “Tetap berkepala dingin, gunakan ketajaman analisis!”
Keluar dari Zona nyaman bisa dilakukan saat kita masih sebagai orang kantoran. Salah satunya bisa dengan terbuka terhadap semua tugas yang ada didepannya, menerimanya dengan sadar, dan melaksanakan dengan yang terbaik. Insyaallah karir menjadi cemerlang dan tujuan hidup tercapai. (wel~)
Referensi:
- Your Job Is Not Your Career, René Suhardono
- Who Move My Cheese, Spencer Johnson, M.D.
- Mereka Bilang Saya Gila, Edy Zaqeus