Menghadirkan empati
Saya sering sedih ketika seseorang menganggap kegiatan memotret itu identik dengan bersenang-senang. Penuh tawa, makan minum, canda . Dan bergaul dengan cewek-cewek cantik. Tidak salah, karena mungkin seperti itulah yang mereka saksikan. Tapi fotografi bukan hanya itu.
Seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan Foto135 di bulan puasa kemarin yang menggelar acara Photography For Charity dengan menampilkan foto-foto human interest. Tentu saja tidak ada yang cantik ataupun kemewahan, tapi foto-foto yang mampu menggugah hati lantas mampu mengucap syukur atas segala yang sudah dipunyai.
Bukan kesedihan yang diketengahkan disitu. Semangat mengarungi hidup dengan kerja keras dan peduli menjadi cerita yang menarik untuk diangkat. Sebut saja foto berjudul BANGKIT, yang menggambarkan kegigihan nenek pedagang di pasar Cihaurgeulis.
Ada lagi lelaki tua pedagang kopi keliling menenteng termos air panas di keramaian Kota Tua Jakarta yang direkam pada foto MENATAP MANTAP. Beberapa kisah perjuangan hidup lainnya direkam dengan baik dan disajikan dengan apik oleh 15 fotografer.
Tema yang diangkat dalam acara ini mendapat sambutan dari banyak kalangan. Bahkan jajaran direksi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. menyempatkan hadir dan berapresiasi dengan membeli beberapa foto yang dipamerkan.
Keuntungan dari penjualan foto yang terkumpul disumbangkan kepada kaum dhuafa yang memang sangat membutuhkan. Apalagi disaat-saat special ramadhan dan lebaran seperti ini. Agar mereka juga ikut merasakan kebahagiaan seperti kita semua.
Selain itu, bagi saya pribadi, kegiatan ini juga menjadi sarana sosialisasi dan pengobat kesedihan saya diawal. Fotografi bukan hanya kesenangan, bukan pula foya-foya. Fotografi mampu menghadirkan empati bagi siapa saja.