Welly Ardhana

Paradox Hacker

Hari-hari yang seru rupanya menjadi milik Bangsa ini belakangan. Kita sama-sama disuguhi adegan-adegan action yang menciptakan garis tegas antara pahlawan dan pesakitan. BNN menangkap pesohor dengan zat adiktifnya. KPK menangkap calon pesakitan dengan basah-basahan. Polisi menangkap penculik di tengah malam dan penjaga warnet yang diopinikan media sebagai hacker. Kucing saya pun juga berhasil menangkap burung untuk sarapannya. Hehe… kalau yang terakhir ini emang sudah garisnya yah.

Menyebut hacker, beberapa tahun lalu saya punya pengalaman menarik dengannya ketika masih bertanggung jawab untuk menjadi penjaga gawang layanan web hosting. Saya pun jadi banyak menggali informasi tentang dunia itu walau tidak semendalam mereka yang memang dianugerahi rasa penasaran yang begitu besar. Yap.. modal utama dari kaum ini adalah penasaran yang diatas rata-rata orang biasa.

Dunia ini mampu menjadikan orang yang masuk kedalamnya seperti ketergantungan. Nggak perlu nenggak sesuatu yang cukup bisa mengundang BNN datang tanpa diundang. Namun keliru melangkah, menyebabkan polisi mampir ke warnet tanpa permisi  seperti yang terjadi beberapa hari lalu. Karena memang sebagian pihak menganggap mereka sebagai sebuah gangguan.

Padahal yang dilakukan cuma melakukan explorasi terhadap sebuah kelemahan sistem dan selanjutnya mengeksploitasi. Dititik inilah kemudian muncul beberapa perbedaan di dalam komunitas hacker. Ada yang cukup dengan explorasi kelemahan dan mencari jalan untuk masuk lebih jauh tanpa tujuan apa-apa. Hanya memuaskan keingintahuan pribadi. Dan ada juga yang bertindak lebih jauh dengan membawa misi tertentu dengan melakukan deface (mengubah tampilan sistem) untuk menarik perhatian agar orang memperhatikan pesan yang ingin disampaikan.

Saya sudah pernah menemui keduanya. Suatu ketika ada website pelanggan yang tampilan depannya diganti dengan pesan-pesan tertentu, bahkan tak jarang juga dengan gambar lebih dari seronok. Ini jelas-jelas mengganggu layanan dan bahkan citra dari yang diwakili oleh website tersebut.

Tapi sebenarnya, hacker ini nggak cuma ada di dunia website saja. Disistem-sistem lain yang saling terhubung juga bisa menjadi areal bermain. Namanya juga buatan manusia, selalu ada kelemahannya. Apalagi perkembangan teknologi yang begitu pesat. Server-server saya dulu selalu saja bisa di tembus setiap kali ditemukan sebuah kelemahan baru. Sekali sebuah sistem ditemukan kelemahannya, informasi itu akan dengan cepat menyebar. Dan orang yang tidak berkepentingan dapat masuk ke dalam sistem cuma menunggu waktu.

Disini peran system administrator dituntut selalu uptodate terhadap isu-isu keamanan sistemnya. Dia harus mengenali aplikasi apa saja yang bekerja di sana dan bagaimana cara bekerjanya, serta bagaimana cara berkomunikasi dengan sistem lain di luar. Maka biasanya hacker yang baik mampu memanfaatkan kelemahan dan mengatasinya.

Beruntung saya sempat bertemu dengan jenis yang satu ini. Maka ketika pertama kali kami saling chat lewat server, dia bersedia berbagi info aplikasi mana yang dipakai untuk masuk secara ilegal dan info cara mencegahnya. Tapi meski sudah dapat petunjuk, solusi jitunya juga mesti harus digali dan diracik sendiri lewat info-info yang menyebar disetiap sudut internet.

Salah satu yang menarik yang saya temui adalah ternyata untuk menjadi hacker jagoan, ada latihan yang perlu dicoba dan itu sama sekali tidak berhubungan dengan dunia komputer dan jaringannya. Namanya Social Enggeenering, yang dilakukan adalah mencoba mengeksploitasi sistem-sistem layanan publik dan mencari jalan untuk memanfaatkannya. Cukup banyak layanan publik yang punya kelemahan akibat dari desain aturan main yang barangkali obsolete. Seperti layanan klaim makanan cepat saji. Cerita sukses yang menjadi contoh waktu itu adalah mendapatkan makanan gratis lewat klaim menggunakan nota pembelian orang lain.

Tapi saya yakin, sekarang ini layanan-layanan itu sudah berbenah. Teknologi sudah merambah kemana-mana. Algoritma ciptaan manusia juga makin maju. Perusahaan-perusaan jasapun makin pede memberikan layanan terbaiknya.

Disini sinergi tercipta dari sebuah paradox. Persis seperti kehadiran malaikat dan setan. Keduanya bertentangan tapi dapat menciptakan manusia unggulan dihadapanNya. Tentu bagi mereka yang mau dan mampu.

3 Comments

  1. Teh Lely says:

    jadi kira2 yang salah siapa ya? hackernya? sistemnya? atau ..
    *mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang

    • me says:

      Karena sudah ada undang-undangnya, maka yang keliru adalah yang masuk tanpa ijin. Tapi yang menciptakan kesempatan untuk terjadinya itu juga bisa di kategorikan sebagai membantu. Nah… lebih mbulet kan…

  2. danre says:

    Ada nyang namanya hacker ada juga nyang namanya cracker. Klo gak salah dua-duanya hampir di bidang yang sama ya,, bedanya klo cracker itu mencari celah sistem untuk diperbaiki bukan menggunakan celah itu untuk merusak. Jadi bolehkah menjadi cracker?
    Yang jelas cracker itu semacam biskuit, hehe…

Leave a Reply