Welly Ardhana

Empati Lingkungan

Sudah sekitar 35 tahun saya menempati bumi yang dibuat nyaman ini dengan segala infrastruktur penunjang kehidupan dasar seperti udara, air, tanah, cahaya, dan lain-lain. Penciptanya tidak pernah menuntut saya untuk membayar sepeserpun atas semuanya itu. Hanya untuk supaya dikatakan warga negara yang baik, saya diwajibkan menunaikan pembayaran pajak ini dan itu, serta yang lainnya kepada penyelenggara negara (yang notabene bukan penciptanya).

Tapi ya sudahlah biarkan saja. Tulisan ini bukan untuk membahas itu karena ini hanyalah keprihatinan saya terhadap pola pikir mereka yang ada di tanah indah Nusantara dengan 2 musim dasarnya yaitu panas dan hujan serta bermacam musim pendukung lain yang tak kalah serunya seperti musim durian, musim layang-layang, musim demo, musim kebakaran, musim ujian nasional, musim menghujat eyang-eyang, hingga musim antri solar dan musim jadi follower tweet RI-1.

Sudah jadi kebiasaan ketika orang bepergian untuk berwisata yang terbayang dibenaknya adalah gambaran-gambaran apa yang akan dinikmati oleh mata, dirasakan oleh kulit, dikecap oleh lidah, dan kegaduhan yang masuk ke telinga. Maka hal-hal tersebut itulah yang kemudian menjadi sasaran yang harus dinikmati ketika sampai dilokasi. Disadari atau tidak ini pulalah yang menjadi keharusan untuk dipenuhi. Demand tercipta.

Tentu saja demand tidak akan dibiarkan menjadi demand begitu saja.Tour guide tumbuh, dibekali dengan kemampuan mengkomunikasikan hal-hal yang ditawarkan di lokasi wisatanya. Memberikan service kepada tamu-tamunya dengan satu tujuan. Memenuhi semua pemandangan yang sebelumnya diharapkan, suasana yang diimpikan, makanan dan minuman yang sudah dibayangkan. Kesemuanya membentuk sebuah pengalaman yang mengesankan. Apalagi jika layanan yang diberikan tergolong baru bagi tamu tersebut. Entah karena memang sebelumnya tidak pernah ada atau hanya karena tamu itu yang baru menemukan.

Sampai sini semuanya baik-baik saja. Tapi yang mengusik saya adalah pengalaman snorkling di Karimun Jawa beberapa waktu yang lalu. Demi memberikan sesuatu yang berkesan, tour guide beberapa kali mengajarkan kami untuk berpegangan pada karang laut didalam air agar bisa bertahan beberapa saat didalam air untuk bisa diambil fotonya. Dan semua mengikuti.

Padahal, karang laut sebenarnya masuk kedalam golongan binatang lunak walau tubuhnya menempel di dasar dan ditutup dengan cangkang kapur yang terkesan keras tapi mudah patah. Jika tiap hari tour guide kami selalu mengajarkan ini ke setiap tamunya maka tak terhitung jumlah karang yang rusak demi sebuah foto yang berkesan. Bukan sebuah simbiosis mutualisme antara manusia dan lingkungannya, menurut saya.

Ditambah lagi menemui karang yang digunakan untuk penambat perahu. Walaupun sudah dipilih yang ukurannya terbesar diantara sekitarnya, tetap saja cara menmbatkan perahu seperti ini bisa menyebabkan patahan. Saya pikir ini sama beresiko dengan yang sebelumnya.

Itu masih belum seberapa. Yang lebih parah adalah pelakunya tak lain adalah mereka-mereka yang mencari manfaat dari apa yang mereka ‘rusak’ tersebut. Keindahan lingkungan. Setahun dua tahun mungkin tidak akan nampak efeknya. Tapi bisa jadi 10 atau 20 tahun yang akan datang, anak-anak mereka yang bisa jadi meneruskan pekerjaan orang tuanya bakal lebih sulit mencari spot-spot karang yang indah karena pemahaman pada masa orang tuanya terhadap keutuhan lingkungan yang belum pas.

Semoga saja tidak. Dan hanyalah saya yang paranoid.

 

One Comment

  1. ui says:

    tulisan ini keren, simple tapi ngena. apa karena pernah ikut foto itu jg ya :D

Leave a Reply