WellyArdhana

Dance with my father again

By: Luther Vandross

Back when I was a child Before life removed all the innocence My father would lift me high And dance with my mother and me and then

Spin me around till I fell asleep Then up the stairs he would carry me And I knew for sure I was loved

If I could get another chance Another walk, another dance with him I’d play a song that would never, ever end How I’d love, love, love to dance with my father again

Ooh, ooh

When I and my mother would disagree To get my way I would run from her to him He’d make me laugh just to comfort me, yeah, yeah Then finally make me do just what my mama said

Later that night when I was asleep He left a dollar under my sheet Never dreamed that he Would be gone from me

If I could steal one final glance One final step, one final dance with him I’d play a song that would never, ever end ‘Cause I’d love, love, love to dance with my father again

Sometimes I’d listen outside her door And I’d hear her, mama cryin’ for him I pray for her even more than me I pray for her even more than me

I know I’m prayin’ for much too much But could You send back the only man she loved I know You don’t do it usually But Lord, she’s dyin’ to dance with my father again Every night I fall asleep And this is all I ever dream

Kalian, reminder saya Kawan

Tidak ada yang lebih indah selain masih ada kawan yang mau menegur bahkan mengirimkan doa. Hal kecil yang sangat besar efeknya.

Pada dasarnya orang memang senang jika diperhatikan, baik itu berupa sapaan, ucapan selamat, bahkan belasungkawa sekalipuan. Dengannya seseorang menjadi tidak merasa sendiri, ada yg siap membantu.

Selanjutnya, ketidaksendirian menjelma sebagai media kontrol sosial yang ampuh dan menjamin norma-norma tak tertulis di masyarakat tetap terpelihara.

Agar menjadi seperti itu, ketidaksendirian membutuhkan interaksi yang sarat dengan hukum sebab akibat. Jangan berharap orang lain menyapa jika tidak pernah melakukannya. Jangan harap dikirimi ucapan selamat jika tidak pernah mengirimkannya.

Artinya, jika banyak menerima dan jarang melakukan ini berarti saatnya berbenah. Bagaimana bisa saya dan Anda tidak melakukan hal baik ini sementara banyak kawan justru sebaliknya?

Terima kasih Kawan. Atas sapa, canda, dan ucapan yang kau berikan selama ini. Semua itu membentuk rasa lebih eksis (jiah lebay).

Teminal Ubung, Denpasar Bali

Bahagiakan Dirimu

Umumnya orang mengisi hari Senin paginya dengan melakukan review pekerjaan minggu kemarin dan mengatur strategi untuk mengarungi beberapa hari kerja kedepan dengan membuat jadwal. Apa jadinya jika tiba-tiba  diwaktu yang baik itu seseorang marah-marah, cuma karena BBM yang dikirimkan semalam tidak Anda balas, misalnya ?

Apa reaksi Anda ? Silakan bagi ceritanya lewat komentar disini.

 

 

Berkarir di zona nyaman

Pada suatu pagi saya tertarik dengan tweet seorang kawan “Menanti kereta tiba, ke kantor  bareng suami” yang diposting pada pukul 05:15 pagi. Pada kesempatan yang lain saya juga tertarik dengan tweet seorang pengusaha busana muslim “Main bersama anak-anak” dipostingkan pada pukul 07:30 lalu 2 jam setelahnya “Memulai merangkai kreatifitas dengan bertemu kolega di Mall”.

Read the rest of this entry »

Hati si pencuri

Pencuri, walaupun tidak ada yang menyebut saya begitu tapi tidak jarang sebutan itu sangatlah layak untuk disandang. Sebuah konsekuensi dari kebiasaan yang ‘rasanya’ masih susah untuk ditinggalkan.

Saat gerakan belumnya tuntas sempurna, saya sudah melanjutkan dengan rukun yang lain. Apalagi dengan bacaan, belumnya tuntas badan ini sudah bergerak, seolah tanpa membaca apapun. Padahal rukun-rukun tersebut merupakan syarat sahnya sebuah komunikasi ke Yang Maha Pengasih.

Tapi mengapa masih saja ini saya lakukan ?

Sederhana saja awalnya, hanya karena kebiasaan, tidak lebih. Kebiasaan untuk tidak memperhatikan dengan seksama terhadap setiap apa yang dilakukan. Ditambah lagi dengan tidak adanya rasa ikhlas untuk meletakkan ‘sejenak’ segala urusan dunia untuk menghadap kepadaNya, berkeluh kesah, menangis dan meraung sejadi-jadinya.

“Aku ingin menangis dan meraung tanpa henti! “

 

SITTI Ads