WellyArdhana

Berkarir di zona nyaman

Pada suatu pagi saya tertarik dengan tweet seorang kawan “Menanti kereta tiba, ke kantor  bareng suami” yang diposting pada pukul 05:15 pagi. Pada kesempatan yang lain saya juga tertarik dengan tweet seorang pengusaha busana muslim “Main bersama anak-anak” dipostingkan pada pukul 07:30 lalu 2 jam setelahnya “Memulai merangkai kreatifitas dengan bertemu kolega di Mall”.

Read the rest of this entry »

Hati si pencuri

Pencuri, walaupun tidak ada yang menyebut saya begitu tapi tidak jarang sebutan itu sangatlah layak untuk disandang. Sebuah konsekuensi dari kebiasaan yang ‘rasanya’ masih susah untuk ditinggalkan.

Saat gerakan belumnya tuntas sempurna, saya sudah melanjutkan dengan rukun yang lain. Apalagi dengan bacaan, belumnya tuntas badan ini sudah bergerak, seolah tanpa membaca apapun. Padahal rukun-rukun tersebut merupakan syarat sahnya sebuah komunikasi ke Yang Maha Pengasih.

Tapi mengapa masih saja ini saya lakukan ?

Sederhana saja awalnya, hanya karena kebiasaan, tidak lebih. Kebiasaan untuk tidak memperhatikan dengan seksama terhadap setiap apa yang dilakukan. Ditambah lagi dengan tidak adanya rasa ikhlas untuk meletakkan ‘sejenak’ segala urusan dunia untuk menghadap kepadaNya, berkeluh kesah, menangis dan meraung sejadi-jadinya.

“Aku ingin menangis dan meraung tanpa henti! “

 

Haruskah ada lagi penjajah

Tulisan ini adalah keprihatinan saya terhadap perkembangan masyarakat kita belakangan ini yang saya ikuti di media massa. Sebuah masyarakat yang dikenal keramahannya, kekeluargaannya, dan kegotongroyongannya — at least berdasarkan buku Pendidikan Moral Pancasila Sekolah Dasar dulu. Read the rest of this entry »

Pikir-pikir dulu

Setiap kali ada kawan bertanya tentang keinginan dia untuk membeli sebuah kamera SLR selalu saya jawab dengan kalimat yang sama. “Bagus..! Tapi pikir dulu baik-baik.” Dengan tidak bermaksud untuk mengurangi bara semangatnya, saya berterus terang menyampaikannya —kecuali jika yang bertanya tidak mempunyai batasan kekuatan finansial. Read the rest of this entry »

Idola

Awalnya kukira kehadiran mereka menjadi hiburan buatku yang sehari-hari hanya bermain diruangan sempit ini. Melompat kesana kemari sambil sesekali berlari dan meneriaki tetangga sebelah yang kemudian turut membuat gaduh suasana. Beberapa anak kecil mengamati senang akan tingkah kami ini, sampai-sampai si gendut tidak merasa es krimnya meleleh tumpah ruah ditangannya. Read the rest of this entry »

SITTI Ads